31.10.08

Tiada kata-kata seindah kata “tulus” Kata yang sama derajatnya dengan kata “jujur”, “ikhlas” “ridho” ataupun “rela”. kata yang nyaris lenyap/punah karena semakin langka orang yang menyematkan ketulusan dalam setiap perbuatannya, dan kata yang mungkin sebentar lagi akan segera masuk museum agar dapat dikenang oleh keturunan kita yang akan datang, bahwa dalam kehidupan orang-orang terdahulu pernah ada sikap dan perilaku tulus yang mewarnai hidup.


Ketika seorang sahabat pernah bertanya pada Nabi tentang makna dan hakikat ketulusan, atau yang bisa disebut pula keikhlasan. Saat itu Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam tidak langsung menjawabnya, melainkan berjanji untuk menanyakannya terlebih dahulu pada Malaikat Utama, Jibril 'alaihis salam. Jibril yang ditanya oleh Nabi (Sall-Allahu 'alaihi wasallam) akan makna ketulusan ini pun, tidak berani langsung menjawabnya, dan berkata bahwa ia akan menanyakannya pada Mikail 'alaihissalam. Demikian pula Mikail pun tak berani langsung menjawabnya, dan terus bertanya kepada 'Izrail 'alaihissalam. Dan 'Izrail pun bertanya pada Israfil 'alaihissalam, hingga yang terakhir ini pun tak mampu menjawab langsung, dan menanyakannya langsung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apakah jawaban Allah? "Huwa sirru min asraarii" "Dia (Ketulusan) adalah suatu rahasia di antara rahasia-rahasia-Ku". Ya, suatu rahasia antara Ia SWT dengan hamba-Nya....

Sebenarnya tak ada yang bisa menjelaskan makna yang ada dalam ketulusan kecuali ketulusan seorang hamba pada Sang Khalik karena ketulusan bukan suatu hal yang dapat didiskusikan ataupun hanya diuraikan dengan kata-kata indah, namun harus dirasakan secara langsung. Ketulusan kita dalam beribadah pada Allah, ketulusan dalam menghadapi cobaan dari Allah dan lain hal yang bila disebutkan bahkan berlembar-lembar tulisan ini pun tak akan pernah habis.
Saya sendiri juga tidak bisa menilai apakah semua yang saya katakan dan lakukan sepanjang hidup ini telah berbingkai ketulusan, karena kadang masih saja ada kekecewaan yang tiba-tiba menyeruak tatkala saya tak mendapatkan keuntungan dari yang telah saya lakukan. Mengeluh, mengumpat, bahkan bersumpah atas nama Allah atas ketidakadilan yang saya terima.

Baca-Baca Yang Ini Juga

6 Komentar Teman:

fauzan mengatakan...

hmmmm....
mungkin kayaknya yang hampir punah bukan katanya deh mbak, kayaknya kalau kata-kata tulus malah makin marak dan sering diobral, apalagi yang lagi pacaran, mungkin jiwa yang tulus yang hampir punah

Nova mengatakan...

@: wah bener juga yach kang,,klo untuk kata setiap orng pun bisa berkata kyk gitu tp blom tentu jiwanya iya,,yupz makasih yach

preni mengatakan...

ketulusan manusia ada batasnya, ketulusan Allah, jangan diragukan lagi, Dia Sang Maha Tulus...
hehehehe...
Rasul n Malaikat aja ga brani langsung jawab, apalagi aku...
hehehehe...

Liam mengatakan...

setiap apa yang dilakukan manusia terhadap manusia yg laen ataupun terhadap Allah SWT tidak ada yang sepenuhnya dilakukan dengan ketulusan.
baik sedikit pasti ada sebersit keinginan untuk mendapatkan balasan,,
tapi itulah manusia,,
tidak ada manusia yang sempurna,,
itu seh menurut pendapatku,,,

ellie mengatakan...

susah memank, el se7 ma wacana ni, kapan ci kita benar2 dinilai tulus?! perasaan dah tulus, tapi kok....
hehehehehe
benerlah, nobody is perfect...

ipanks mengatakan...

bener itu nov. kata-kata diatas udah hampir punah hanya segelintir orang yang bisa mengucapkan itu.semoga kita termasuk kedalam orang-orang itu ya.amien...amienn...amien...ya rabbal allamien.

o ya numpang link juga ya.main dunk ke blog saya yang lain di ipanks

Posting Komentar