
Walaupun sudah jelas bakal menguras tenaga, bikin kita lapar, bikin kita kepanasan dan kedinginan, bahkan bisa bikin kita hipotermi, pokokke bikin kita ngaplek, tapi kita tidak pernah jera. Ini adalah pertanyaan untuk diri kita sendiri!
Kalau ada orang yang mempertanyakan hal tersebut, mungkin akan mengundang beragam jawaban, seperti entah itu karena hobi, mencari kepuasan batin, karena melambangkan kegagahan, killing time, atau pelarian.
Terlepas dari jawaban itu semua, yang jelas ketika kita melakukan kegiatan outdoor –seperti mendaki gunung, arung jeram, susur gua, dan panjat tebing– semua itu kita lakukan dengan enjoy, tanpa beban. Rasa capek kita terobati oleh senda gurau dengan saudara-saudara kita selama di perjalanan. Alangkah indah ketika kita duduk-duduk di depan tenda di malam hari di tengah belantara ditemani secangkir kopi wangi dan batangan rokok. Alangkah indah ketika kita masak dan makan bersama. Alangkah indah suasana seperti itu dan itu salah satu yang membuat kita ketagihan yang kadang membuat kita lupa dunia di luar kita.
Apa yang membuat kita bertahan? Karena takut digampar Si Akang atau Si Teteh? Terus mengapa kita rela menyediakan waktu kita untuk mengikuti diklat dan walau sebagian besar sudah mengetahui bakal ada ‘gamparan’? Terus setelah usai diklat, kita melakukan kegiatan yang sama, ke gunung lagi, arung jeram lagi, susur gua lagi, panjat tebing lagi. Lalu mengapa sebenarnya kita melakukan semua itu. Tak bisa dipungkiri itulah yang dinamakan “cinta.”
Ketika kita mencintai seseorang atau sesuatu, kita rela melakukan apa saja. Kita akan marah, malah rela berantem ketika ada orang yang menghina dan mencemooh apa yang kita cintai. Ya! Itulah cinta!
Kita rela memberi apa saja untuk yang kita cintai, termasuk nyawa kita sekalipun. Seorang pendaki rela mengobankan nyawa demi cintanya pada obsesi menapakkan kakinya di sebuah puncak gunung, seorang rafter rela hanyut dan mempertaruhkan nyawanya demi obsesinya menaklukkan jeram.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kita menjalani hidup ini pun demi cinta, cinta pada kehidupan itu sendiri, walau kadang kehidupan itu sendiri tidak membalas cinta kita. Sehingga timbul ungkapan “Mencintai tidak harus memiliki.” Ketika hal itu terjadi pada diri kita, timbul pertanyaan, “Mengapa kita harus mencintai yang tidak bisa kita miliki?”
Mencintai Sang Maha Pecinta
Mengapa kita kadang rela mencintai sesuatu atau seseorang yang tidak membalas cinta kita? Yang tidak bisa kita miliki? Padahal ada cinta yang selalu membalas cinta kita dan bisa dimiliki?
Ya! Sang Pemurah, Sang Penyayang, Sang Pencipta, Sang Maha Pecinta.
Dialah yang selalu memberi dan membalas cinta kita, walau kadang kita lupa untuk mencintainya. Dialah cinta sejati yang bisa kita miliki sampai mati, bahkan hingga kehidupan sesudah mati. Bahkan Dia menyatakan cinta-Nya pada kita dengan mengatakan, “Jika kamu mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatimu dengan berlari.”
Itulah cinta sejati, cinta yang selalu memberi tanpa pelu menerima. Itulah hakikat cinta. Mencintai Sang Maha Pecinta !
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan, hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”(QS : Al-Mulk : 15)
Bumi sudah diciptakan, ditaklukkan, dan dimudahkan untuk kita terus disediakan pula rezeki yang berlimpah untuk kita. Kita diberi segalanya tanpa harus kita mengembalikan atau membalasnya. Lalu apakah tidak layak bagi kita untuk mencintai Dia Sang Maha Pemberi ini?***Special To : Wiwin, Mas Ari, Arif, Sobat Wiwin Sapa tuh Namanya??,,
Baca-Baca Yang Ini Juga
Wacana Cerita
- " OKSIGEN DALAM RUPIAH "
- " INGATLAH "
- KUPIKIR
- " Ku Rindu Ayah "
- "Ibunda"
- Hargailah Dia
- Jangan Ngerez Dulu Yee
- KEMBALI
- Yang Tersembunyi
- Memaknai Cinta
- Jangan Menyerah
- Senyuman
- Wanita Sering Menangis
- Mitos Bunga Edelweis
- Sang Pengamen
- Maafkan Aku
- Aku dan Sempurna
- Award Terbayak GW
- Kata yang Hampir Punah
- Tentang Kesetiaan
- Tak Pernah Tidur
- Psikopat dan Homoseksual
- Teriakan/bentakan” takkan menyelesaikan suatu masalah
- Raden Gatotkaca
Wacana Hati
- " MEREDAKAN " BAD MOOD "
- " JANJIKU "
- " JANGAN SEDIH "
- " DOAKU "
- " INGATLAH "
- AKU DAN PENGERTIAN
- KUPIKIR
- " ADA 5 TUTUR BIJAK "
- " Ku Rindu Ayah "
- "Ibunda"
- Hargailah Dia
- Kehidupan
- Waktu dan Rindu
- Perempuan di mata Allah S.W.T
- Senyum
- KEMBALI
- Yang Tersembunyi
- Memaknai Cinta
- Jangan Menyerah
- Seperti Sendiri
- Senyuman
- Wanita Sering Menangis
- Contoh Ucapan Tahun Baru
- Mitos Bunga Edelweis
- Untuk Apa Berbuat
Wacana Motivasi
- " MEREDAKAN " BAD MOOD "
- " MOTIVASIKU "
- " OKSIGEN DALAM RUPIAH "
- " JANGAN SEDIH "
- " DOAKU "
- " INGATLAH "
- AKU DAN PENGERTIAN
- KUPIKIR
- " ADA 5 TUTUR BIJAK "
- " 9 Yang Tak Dapat Dibeli Uang "
- Hargailah Dia
- Kehidupan
- Waktu dan Rindu
- Perempuan di mata Allah S.W.T
- Senyum
- KEMBALI
- Yang Tersembunyi
- Memaknai Cinta
- Jangan Menyerah
- Senyuman
- Wanita Sering Menangis
- Sang Pengamen
- Apakah Doa
- Bosan Menjalankan Hidup
- Pait Asam Manis Perjalanan Hidup
3 Komentar Teman:
judulnya lucu broth :D
setauQ.biasanyaa...orang yang suka nek gunung itu orangnya nyenengin....ya ga sih...emang seru kalo lagi naek gunung.ga bkal cape kalo dah kumpul ma temen²
wow foto saya dipasang
(brimob)
Posting Komentar